

MAKASSAR, DAULATRAKYAT.— Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan mitra strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui gelaran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera wilayah Sulampua yang berlangsung di Makassar pada Jumat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki E. Wimanda, menyampaikan bahwa kolaborasi dari hulu hingga hilir sangat krusial dalam menghadapi tantangan distribusi pangan di wilayah kepulauan, dinamika ekonomi global, serta risiko perubahan iklim.
Menurut Rizki, melalui sinergi yang semakin solid antara Bank Indonesia, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah, pihaknya berupaya menjaga agar inflasi kelompok pangan bergejolak tetap berada dalam kisaran target yang ditentukan. Penyelenggaraan kegiatan di Makassar ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian gerakan pengendalian inflasi nasional setelah sebelumnya dilaksanakan di wilayah Sumatera, Jawa, serta Bali dan Nusa Tenggara.
Guna memantapkan ketahanan pangan kawasan, Bank Indonesia mendorong strategi Tallukarsa Pangan Sulampua yang bertumpu pada tiga pilar utama. Strategi ini mencakup Karsa Daya untuk meningkatkan kapasitas produksi pertanian dan perikanan melalui dukungan sarana prasarana serta pembiayaan perbankan bagi kelompok tani dan nelayan. Kemudian Karsa Sambung yang berfokus memperkuat kerja sama antardaerah untuk komoditas strategis dan konektivitas logistik, termasuk pelepasan armada Mini Distribution Centre TPID Kota Makassar. Selain itu, pilar Karsa Tata hadir untuk menguatkan kelembagaan dan ekosistem pangan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, Sekolah Lapang Iklim bersama BMKG, serta penyusunan neraca pangan bersama Bapanas.
Rizki menambahkan bahwa keberhasilan pengembangan peternakan ayam modern di Sulawesi Selatan menjadi bukti nyata efektivitas kolaborasi antar pemangku kepentingan. Praktik baik tersebut siap direplikasi ke berbagai daerah lain di wilayah Sulampua agar dampak pengendalian inflasi dapat dirasakan secara langsung dan berkelanjutan oleh masyarakat.
Dalam forum yang sama, Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah wilayah Sulampua merumuskan kesepakatan Panca Reso Sipatokkong Pangan Sulampua. Kesepakatan ini mencakup penguatan produksi pangan yang adaptif iklim, modernisasi sektor pertanian dan perikanan, pengembangan hilirisasi pangan untuk meningkatkan nilai tambah, hingga perluasan akses pembiayaan bagi para petani dan nelayan. Di samping itu, penguatan data stok serta pelaksanaan operasi pasar berbasis sistem peringatan dini di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal juga menjadi prioritas utama yang dipadukan dengan peningkatan konektivitas logistik antarpulau.
Rizki menegaskan bahwa Bank Indonesia Sulsel bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mengawal implementasi kesepakatan ini secara berkelanjutan demi mengurangi disparitas harga antarwilayah, meningkatkan efisiensi distribusi, serta menjaga daya beli masyarakat di seluruh wilayah Sulampua.
Pertemuan strategis ini turut dihadiri oleh pimpinan Bank Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, serta para kepala daerah se-Sulawesi, Maluku, dan Papua.


Tidak ada komentar