
MAKASSAR.DAULATRAKYAT.Kain tenun khas Sulawesi Selatan bersiap melebarkan sayapnya ke pasar internasional. Melalui momentum Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Makassar bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar resmi menggandeng Cita Tenun Indonesia (CTI) untuk mendorong produk kerajinan lokal naik kelas ke kancah global.
Wakil Ketua Harian II Dekranasda Makassar, Dr. Rosnani, SIP, MA, menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar industri wastra saat ini adalah minimnya penenun asli di Makassar. Berdasarkan hasil penjaringan (open call) yang dilakukan, dari 20 pendaftar, baru sekitar 7 orang yang benar-back memiliki keterampilan menenun, sementara sisanya baru sebatas memiliki minat.
”Tujuan utama kami adalah mengembangkan UMKM di daerah. Kita ingin perajin tenun kembali bergeliat di Kota Makassar, mengubah mindset lama bahwa tenun itu tidak ekonomis, dan mendorong mereka untuk bisa ‘naik kelas’ hingga menembus panggung bergengsi seperti Jakarta Fashion Week,” ujar Dr. Rosnani.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Harian I Dekranasda Makassar, Dewi Andriani, SST.Par., M.Par., menekankan pentingnya integrasi kerja sama lintas sektor ini. Langkah ini diharapkan dapat membuka ruang ekspresi yang lebih luas bagi perajin lokal agar karya mereka semakin dikenal dan diminati oleh pasar global.
CTI Dorong Modernisasi Fungsi Tenun Tradisional
Industri tenun tidak lagi sekadar urusan adat dan seremonial. Project Officer Cita Tenun Indonesia (CTI), Syamsidar Isa, menjelaskan bahwa CTI berkomitmen penuh mendampingi perajin melalui pembinaan intensif yang melibatkan desainer tekstil hingga desainer busana.
Pembinaan yang telah berjalan secara konsisten ini bertujuan memberikan wawasan baru terkait standardisasi kualitas, manajemen produksi, serta adaptasi tren. Tenun yang awalnya didominasi untuk keperluan adat, kini didorong agar lebih fleksibel menjadi pakaian sehari-hari (ready-to-wear) hingga produk interior mewah.
Sentuhan Kreatif Tiga Desainer Nasional dalam Mengolah Tenun Sengkang
Puncak dari kolaborasi ini ditandai dengan keterlibatan tiga desainer mode papan atas Indonesia yang memberikan napas baru pada Tenun Sengkang:
De Rizki Yanto
Mengusung konsep busana kerja (work wear) modern yang fleksibel untuk berbagai kesempatan (any occasion). Menampilkan 4 koleksi bertajuk “Yang Terbawa”, busana ini terinspirasi dari emosi, memori, dan pelestarian budaya dengan kisaran harga mulai dari Rp8 juta hingga Rp10 juta.
Rama Dauhan
Menampilkan karakter desain romantic eclectic yang kuat. Rama mengombinasikan wastra tenun dengan berbagai bahan kain pilihan lewat teknik pakaian berlapis (layering) yang memberikan kesan sedikit lebih edgy namun tetap kasual dan mudah diterima oleh publik luas.
Didi Budiarjo
Menampilkan 4 rancangan (look) yang lahir langsung dari program pelatihan CTI di Sengkang, Wajo. Didi berharap koleksi ini dapat memberikan alternatif segar bagi pencinta mode bahwa wastra daerah sangat adaptif dan relevan untuk gaya hidup masyarakat urban masa kini.
Melalui perhelatan ini, Dekranasda Makassar dan CTI optimistis kolaborasi ini tidak hanya melestarikan warisan budaya leluhur, melainkan juga membuka keran ekonomi baru yang lebih menyejahterakan bagi para perajin lokal di Sulawesi Selatan.



Tidak ada komentar