Pesona Senja Fort Rotterdam dan Warisan Budaya Makassar Pikat 41 Delegasi IGS 2026

Redaksi
23 Jun 2026 16:26
2 menit membaca

MAKASSAR.DAULATRAKYAT.Pesona  matahari terbenam (sunset) di Benteng Rotterdam menjadi suguhan istimewa bagi 41 delegasi dari 28 negara yang mengikuti rangkaian Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 di Kota Makassar, Selasa (23/6/2026).

Perpaduan panorama senja, seni tradisional, dan warisan budaya lokal berhasil menghadirkan pengalaman mendalam yang berkesan bagi para tamu internasional tersebut.

​Saat langit Makassar perlahan berubah jingga menjelang malam, para delegasi tampak menikmati suasana syahdu di salah satu situs sejarah paling ikonik di Sulawesi Selatan ini. Momen tersebut kian semarak dengan hadirnya berbagai atraksi budaya yang menampilkan kekayaan tradisi Bugis-Makassar.

​Live Painting Tanah Liat oleh Maestro Zaenal Beta

​Salah satu daya tarik yang paling menyita perhatian para peserta adalah sesi live painting yang dibawakan langsung oleh maestro pelukis tanah liat kenamaan Sulawesi Selatan, Zaenal Beta.

​Di hadapan para delegasi asing, Zaenal memperlihatkan proses kreatifnya secara langsung. Lewat goresan tanah liat di atas kanvas, ia menghasilkan karya seni magis yang menggambarkan identitas budaya serta dinamika kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.

​Mengenal Songkok Racca: Simbol Kebanggaan dan Ketelitian

​Tak hanya dimanjakan oleh seni lukis, para tamu mancanegara juga diajak untuk mengenal lebih dekat Songkok Racca, penutup kepala tradisional yang menjadi simbol kebanggaan sekaligus status sosial masyarakat Bugis-Makassar.

​Pada kesempatan ini, Pemerintah Kota Makassar menghadirkan langsung para pengrajin lokal untuk memperagakan proses pembuatannya:

​Teknik Merajut: Para pengrajin menunjukkan cara menganyam serat pelepah lontar secara manual.

​Detail Tinggi: Proses penyelesaian detail akhir (finishing) yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi.

​Demonstrasi interaktif ini memantik antusiasme besar dari para delegasi. Bagi mereka, Songkok Racca tidak sekadar dipandang sebagai produk kerajinan tangan biasa, melainkan sebuah representasi nyata dari nilai budaya, identitas, dan kearifan lokal yang dirawat turun-temurun.

Sepanjang acara, para delegasi tidak hanya pasif menikmati pertunjukan, tetapi juga aktif berinteraksi dan berdialog langsung dengan para seniman serta pengrajin untuk memahami makna filosofis di balik setiap karya.

​Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya taktis untuk memperkuat diplomasi budaya dalam pelaksanaan IGS 2026. Melalui instrumen seni, kerajinan, dan warisan leluhur, Makassar sukses memperlihatkan wajah Indonesia yang kaya akan tradisi, namun tetap inklusif serta terbuka terhadap kerja sama dan persahabatan global.

​Pemerintah Kota Makassar berharap pengalaman emosional yang diperoleh para delegasi selama berada di Benteng Rotterdam dapat menjadi sarana promosi budaya yang efektif di tingkat internasional.

Selain memperkuat citra Makassar sebagai hub budaya dan pariwisata, momentum ini diharapkan mampu membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di sektor seni, ekonomi kreatif, hingga investasi pariwisata ke depan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x