Transaksi QRIS Melonjak 140 Persen, BI Sulsel Tegaskan Komitmen Akselerasi Digitalisasi dan UMKM

Redaksi
31 Agu 2026 16:16
2 menit membaca

​MAKASSAR.DAULATRAKYAT Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Rezky Ernadi Wimanda, menyampaikan bahwa hingga Juli, volume transaksi QRIS di Sulsel mencapai 28,8 juta transaksi, atau melonjak hingga 140% secara year-on-year (YoY).

​Akselerasi QRIS dan Pergeseran Preferensi Masyarakat

Peningkatan QRIS di Sulsel juga terlihat dari nominal transaksi yang tumbuh 83% YoY mencapai Rp2,57 triliun. Pertumbuhan positif ini didukung oleh kenaikan jumlah pengguna sebesar 17,5% menjadi 1,48 juta jiwa, serta penambahan merchant hingga 1,46 juta atau tumbuh 16,5%.

Selain QRIS, efisiensi tarif transfer BI-FAST senilai Rp2.500 mendorong volume transaksi mencapai 14,6 juta (naik 53%) dengan nominal transaksi menembus Rp33,7 triliun (naik 51%).

​Melesatnya pembayaran digital berdampak pada pergeseran penggunaan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK). Meskipun jumlah kartu ATM/debit mencapai 10,7 juta unit (+1,85%), volume transaksinya melambat 10% menjadi 15,18 juta, dan nominal transaksinya turun 2% menjadi Rp22,78 triliun.

Rezky menyebut pergeseran preferensi masyarakat dari kartu fisik ke QRIS sebagai hal yang alami. Di sisi lain, nominal transaksi kartu kredit tercatat tumbuh 12,7% menjadi Rp415,8 triliun dengan volume transaksi naik 25,2%.

​Prestasi Elektronifikasi Pemda

Tingkat elektronifikasi di wilayah Sulsel terus menunjukkan performa unggul. Seluruh 24 kabupaten/kota beserta pemerintah provinsi kini telah berada pada tahap digital penuh. Atas capaian tersebut, Provinsi Sulsel berhasil meraih Peringkat 1 Championship TP2DD tingkat nasional selama dua tahun berturut-turut pada tahun 2024 dan 2025.

​Penguatan UMKM dan Ekonomi Syariah

Selain memperkuat infrastruktur pembayaran, BI Sulsel memberikan perhatian penuh pada pengembangan 1,5 juta UMKM lokal yang menyerap 97% tenaga kerja dan berkontribusi 60% terhadap PDB. Lewat program pendampingan komprehensif “Rewaku” (Resilient, World-class, Agile, Lovable), BI telah mendampingi 473 alumni UMKM yang terbagi dalam kelas Rewaku Umum, Ekspor, dan Petani.

​Upaya pendampingan tersebut membuahkan hasil nyata, mulai dari ekspor perdana komoditas kemiri ke Arab Saudi hingga transaksi business matching kopi luwak asal Malino dengan pembeli dari Kanada.

Nilai kesepakatan bisnis pada ajang tahunan Angin Mammiri Business Fair pun melonjak tajam hingga mencapai Rp228 miliar pada tahun 2025.

Tak hanya UMKM, BI Sulsel juga terus mendorong kemandirian ekonomi syariah melalui pemberdayaan unit usaha pesantren dan perluasan fasilitasi sertifikasi halal.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x