Ekonomi Sulsel Tumbuh 5,59 Persen di Triwulan II 2024, BI Tekankan Kewaspadaan Dinamika Global

Redaksi
31 Agu 2026 15:40
3 menit membaca

MAKASSAR.DAULATRAKYAT.Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulawesi Selatan (KPw BI Sulsel) mencatat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2024 tumbuh sebesar 5,59 persen secara year-on-year (yoy).

Meskipun melambat dibandingkan triwulan I yang mencapai 6,88 persen, capaian ini menempatkan Sulsel pada peringkat ke-12 secara nasional dan menjadi penyumbang terbesar ekonomi di Pulau Sulawesi dengan kontribusi 2,47 persen terhadap nasional.

​Kepala KPw BI Sulsel, Rezky Ernadi Wimanda, menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah dipengaruhi oleh pemusatan konsumsi masyarakat pada momentum Hari Raya Idulfitri di triwulan pertama.

​”Konsumsi rumah tangga melambat dari triwulan sebelumnya karena pemusatan aktivitas hari raya di triwulan I. Di sisi lapangan usaha, sektor pertanian terkontraksi hingga minus 0,3 persen, serta sektor perdagangan dan industri pengolahan ikut menurun. Namun, kinerja investasi dan sektor konstruksi menjadi penopang utama pertumbuhan Sulsel di triwulan kedua ini,” ujarnya.

​Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,3 persen, melambat dari 5,6 persen di triwulan I. Laju ekonomi nasional ini ditopang oleh pertumbuhan wilayah Bali-Nusra (6,4 persen) dan Jawa (5,65 persen), sementara Pulau Sulawesi mencatatkan pertumbuhan 5,5 persen.

​Tantangan Geopolitik dan Kenaikan Harga Komoditas Global

​Rezky memaparkan bahwa kondisi perekonomian global saat ini diwarnai ketidakpastian tinggi akibat eskalasi konflik geopolitik antara Israel dan Iran yang melibatkan Amerika Serikat. Dampak konflik ini memicu penurunan signifikan pada arus kapal tanker di Selat Hormuz hingga mendekati indeks nol, yang berimbas pada lonjakan harga minyak mentah Brent hingga sempat menyentuh 145 dolar AS per barel sebelum bergerak di kisaran 92 dolar AS per barel.

​Selain minyak mentah, harga komoditas global seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit (CPO) turut mengalami kenaikan. Hal ini memicu peningkatan inflasi global di emerging markets (4,2 persen) dan advanced economies (2,9 persen), yang direspons oleh bank-bank sentral dunia dengan menaikkan suku bunga kebijakan.

Akibatnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2024 korbankan dari 3,5 persen menjadi 3,0 persen.

​”Ketidakpastian pasar keuangan global mendorong penguatan indeks Dolar AS (DXY) melebihi 100, yang memicu depresiasi mata uang di negara-negara emerging, termasuk Indonesia di mana nilai tukar berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Kendati demikian, posisi cadangan devisa Indonesia tetap kokoh sebesar 145 miliar dolar AS, setara dengan 5,3 bulan pembiayaan impor dan utang luar negeri,” lanjutnya diacara pelatihan wartawan di Hotel Pulman Legian  Bali Kamis (27/08/2026).

Pengendalian Inflasi Daerah

​Terkait perkembangan inflasi, inflasi nasional pada Juli terjaga rendah di angka 2,88 persen (yoy). Untuk Sulawesi Selatan, meskipun mencatatkan deflasi bulanan (month-to-month) sebesar -0,18 persen pada bulan Juli, angka inflasi secara tahun kalender (year-to-date) perlu terus diwaspadai karena telah mencapai 2,36 persen, melebihi target indikatif 2,04 persen.

​BI Sulsel bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan ketersediaan pasokan serta kelancaran distribusi barang. Langkah terintegrasi ini diharapkan mampu menjaga laju inflasi Sulsel tetap terkendali pada kisaran target 2,5 ± 1 persen hingga akhir tahun.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x