Gubernur BI: Sinergi Kunci “Tangguh dan Mandiri” Ekonomi Indonesia 2026-2027

Redaksi
29 Nov 2025 02:35
3 menit membaca

JAKARTA.DAULATRAKYAT.Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan bahwa sinergi merupakan kunci utama bagi ketahanan dan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi dan berdaya tahan di tahun 2026 dan 2027.

Hal ini disampaikannya dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 dengan tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”.

Tantangan Global dan Proyeksi Ekonomi

​Perry Warjiyo menyoroti lima karakteristik perekonomian global yang masih diselimuti ketidakpastian tinggi:

​Proteksionisme AS dan Tarif Perdagangan Tinggi yang mengakibatkan penurunan perdagangan dunia dan bangkitnya bilateralisme/regionalisme.

​Pertumbuhan yang Melambat dan Terfragmentasi, khususnya di AS dan Tiongkok, meskipun Indonesia, India, dan Uni Eropa diproyeksikan cukup baik.

​Utang Publik dan Suku Bunga Negara Maju yang Tinggi akibat defisit fiskal besar, yang berdampak pada tingginya bunga dan beban fiskal negara berkembang.

​Kerentanan Pasar Keuangan Global yang rapuh karena transaksi produk derivatif dan Hedge Fund dengan Machine Trading, memicu pelarian modal dan tekanan nilai tukar di Emerging Economies.

​Fenomena Bubble Crypto dan Stablecoins yang marak tanpa pengaturan dan pengawasan jelas, sehingga memerlukan implementasi Central Bank Digital Currency.

Kinerja Indonesia dan Arah Kebijakan BI 2026

​Meskipun menghadapi gejolak global, Perry Warjiyo bersyukur ekonomi Indonesia berdaya tahan dengan stabilitas terjaga dan pertumbuhan yang relatif tinggi, berkat Sinergi.

Proyeksi Kinerja Ekonomi Indonesia 2026-2027:

​Pertumbuhan Ekonomi: Diproyeksikan lebih tinggi, didukung peningkatan konsumsi, perbaikan investasi, dan ekspor yang terjaga.

​Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9-5,7% (yoy) dan meningkat menjadi 5,1-5,9% (yoy) pada 2027.

Dipaparkan  bahwa ​inflasi Akan terkendali dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5% ± 1% untuk tahun 2026 dan 2027, didukung konsistensi kebijakan moneter, fiskal, dan Sinergi Ketahanan Pangan Nasional.

​Stabilitas Eksternal: Dijaga melalui nilai tukar Rupiah yang stabil berkat komitmen tinggi BI dan fundamental yang baik.

Lima Pilar Sinergi Transformasi Ekonomi

​Untuk mencapai pertumbuhan tinggi dan berdaya tahan, sinergi kebijakan ekonomi nasional akan diperkuat dalam lima area penting guna memperkuat kebangkitan dan kemandirian:

​Sinergi Stabilitas dan Permintaan Domestik: Diperkuat melalui sinergi fiskal-moneter (stimulus, pengendalian inflasi) dan sinergi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pembiayaan.

​Sinergi Hilirisasi dan Ekonomi Kerakyatan: Ditekankan untuk transformasi sektor riil melalui kebijakan industrial (hilirisasi SDA unggulan seperti nikel dan kelapa sawit, serta penguatan industri manufaktur prioritas) dan kebijakan struktural (perbaikan iklim investasi dan kecepatan birokrasi).

​Sinergi Peningkatan Pembiayaan Perekonomian: Hilirisasi dan industrialisasi memerlukan pembiayaan besar yang didukung oleh swasta (86%), Danantara (9%), dan Fiskal (5%). BI mendukung melalui pembelian obligasi berkualitas tinggi di pasar sekunder dan fasilitas lindung nilai.

​Akselerasi Ekonomi Keuangan Digital Nasional: Meliputi penguatan infrastruktur, transformasi, inovasi, dan pemerintahan digital, dengan BI mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran (QRIS, BI-FAST, digitalisasi bansos).

​Kerja Sama Investasi dan Perdagangan Internasional: Fokus pada kerja sama bilateral dan regional yang mendukung hilirisasi dan kebutuhan pembiayaan, termasuk perluasan Local Currency Transactions dan sistem pembayaran digital antarnegara dengan negara mitra seperti ASEAN, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, dan Arab Saudi.

​Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan moneter pada tahun 2026 akan tetap pro-stability dan pro-growth di tengah ketidakpastian global, sementara empat kebijakan lain (makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, dan pengembangan UMKM/ekonomi-keuangan syariah) akan sepenuhnya pro-growth.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x