Pak JK,Tokoh Fenomenal Diserang Buzzer. Antara Kritik Membangun dan Label Provokator Hingga Fitnah Kejam Penistaan Agama

Redaksi
15 Apr 2026 15:36
News Opini 0 11
3 menit membaca

MAKASSAR.DAULATRAKYAT.Dalam kacamata budaya Bugis-Makassar, tindakan Pak JK yang memperingatkan potensi chaos atau menyarankan penyesuaian BBM sebenarnya bisa dilihat sebagai bentuk Sipakainge (saling mengingatkan).

Seorang tokoh senior memiliki tanggung jawab moral untuk bicara pahit demi kebaikan bangsa. Namun, di tangan buzzer, fungsi mengingatkan ini diputarbalikkan menjadi “provokasi”.

​Fitnah “Chaos” vs Kewaspadaan:

Ketika Pak JK bicara tentang potensi kerusuhan di bulan Juni-Juli, secara esensi itu adalah peringatan dini agar pemerintah waspada. Namun, buzzer menggunakan teknik framing untuk mengubah peringatan tersebut menjadi sebuah “doa” atau “rencana” jahat. Ini adalah serangan terhadap Lempu (kejujuran) niat beliau.

​Logika Terbalik Isu BBM:

Saran untuk menaikkan BBM biasanya berbasis pada rasionalitas ekonomi untuk menyelamatkan fiskal negara. Namun, narasi ini digiring oleh buzzer seolah-olah Pak JK menginginkan demo besar-besaran.

Di sini, nilai Pacce (empati terhadap rakyat) Pak JK dibenturkan dengan kepentingan politik jangka pendek, sehingga beliau dicitrakan sebagai pihak yang ingin mengadu domba rakyat dengan pemerintah.

Puncaknya, permintaan Pak JK agar ijazah asli ditunjukkan sebenarnya adalah solusi paling sederhana untuk menghentikan kegaduhan (stop the noise).

Dalam prinsip Getteng (keteguhan pada kebenaran), sesuatu yang benar harus dibuktikan secara nyata. Namun, permintaan yang bersifat administratif dan logis ini justru dibalas dengan “pembunuhan karakter” yang sadis oleh mesin opini digital.

Siri’ (malu)  dan Pertaruhan Martabat di Era Digital

​Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, melihat Pak JK difitnah sedemikian rupa memicu rasa Pacce yang mendalam.

Ada rasa pedih kolektif ketika tokoh yang dianggap sebagai representasi identitas daerah diperlakukan tanpa rasa Sipakatau (memanusiakan).

Buzzer bekerja dengan prinsip anonimitas yang menghilangkan beban moral, sangat kontras dengan adat kita yang mengajarkan bahwa setiap kata adalah hutang kehormatan. Serangan ini bukan hanya ditujukan pada pribadi JK, tapi juga pada akal sehat publik.

​Fitnah Penistaan Agama kerjaan sekaligus hobby Buzzer memutarbalikkan fakta dan sejarah

​Potongan video ceramah Pak JK di Masjid Kampus UGM (Maret 2026) yang viral adalah contoh paling nyata.

Beliau sebenarnya sedang menjelaskan realitas sosiologis di balik konflik Poso dan Ambon di masa lalu bagaimana kedua belah pihak yang bertikai kala itu sama-sama menggunakan narasi “mati syahid” sebagai pembenaran.

Faktanya,Pak JK sedang mengedukasi agar kekerasan serupa tidak terulang.

Adapun fitnah Buzzer memotong video pada kalimat “Mati syahid bagi Kristen” untuk membenturkan Pak JK dengan umat Kristiani, seolah-olah beliau menista ajaran agama tersebut.

Ini adalah serangan keji terhadap reputasi beliau sebagai Tokoh Perdamaian Dunia.Laknatullah for buzzer

Prinsip hidup orang bugis “Lebbi’ni maccinnong na malempu, naiya na maccinnong na maceko” (Lebih baik jujur meskipun pahit, daripada terlihat bersih tapi curang).

Fenomena serangan buzzer ini memang sangat masif dan meresahkan….

Penulis : Nina Annisa

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x