
MAKASSAR.DAULATRAKYAT.Perhelatan literasi internasional terbesar di Timur Indonesia, Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026, resmi memperkenalkan rangkaian programnya dalam sesi media briefing yang digelar di Gedung Chapel Benteng Rotterdam pada Rabu (13/06)5/2026).
Memasuki usia penyelenggaraan ke-15, festival tahun ini mengusung tema besar “Reconnect” atau menghubungkan kembali sebagai refleksi atas berbagai krisis multidimensi yang tengah dihadapi masyarakat global saat ini.
Direktur MIWF, M. Aan Mansyur, menjelaskan bahwa festival ini merupakan gerakan warga yang dibangun melalui kolaborasi intensif selama berbulan-bulan. Dengan melibatkan sekitar 300 relawan dan 135 lembaga mitra, MIWF 2026 berhasil merancang 144 program yang akan berlangsung selama empat hari.
Perancangan program tersebut dilakukan secara kolektif bersama tim kurator yang terdiri dari Titah AW, Juli Sastrawan, dan Aziziah Diah Aprilya untuk memastikan keragaman suara dan perspektif di setiap sesinya.
Secara tematik, festival ini dibagi ke dalam empat alur utama yang mendalam. Hari pertama akan dibuka dengan pembahasan mengenai rumah dan keterikatan melalui tema Home & Belonging, disusul hari kedua yang menyoroti kerja perawatan dan pangan dalam Nourishment & Care.
Pada hari ketiga, diskusi akan berfokus pada keragaman budaya pengetahuan melalui Learning & Liberation, dan ditutup pada hari keempat dengan penguatan strategi warga dalam Justice & Collective Power.
Salah satu program yang dinantikan kembali adalah Public Lecture 5×5 Lanskap Hidup yang bekerja sama dengan WESPEAKUP.ORG.
Selain fokus pada literasi, MIWF 2026 tetap memegang teguh komitmen lingkungan dan sosial. Sebagai festival nirsampah sejak 2019, setiap jejak karbon dan sampah yang dihasilkan akan dihitung serta dikompensasi dengan penanaman pohon.
Dari sisi aksesibilitas, panitia menyiapkan 12 juru bahasa isyarat bagi teman tuli dan relawan pembisik bagi teman netra. Festival ini juga secara tegas menentang adanya panel diskusi yang hanya diisi oleh laki-laki demi menjamin inklusivitas ruang dialog bagi semua gender dan latar belakang.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pariwisata.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Makassar, Zulkifli Salam, menegaskan bahwa MIWF memiliki dampak ekonomi signifikan bagi kota, mulai dari sektor perhotelan, transportasi, hingga UMKM kuliner.
Menurutnya, konsistensi MIWF selama 15 tahun terakhir telah memperkuat citra Makassar sebagai kota yang terbuka dan kreatif, sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkenalkan keramahan budaya lokal kepada dunia internasional.


Tidak ada komentar