Di Tengah Gempuran Media Sosial, Jurnalis Diimbau Tetap Bijak Mengemas Berita Ekonomi

Redaksi
28 Agu 2026 09:31
Nasional News 0 34
2 menit membaca

BALI.DAULATRAKYAT. Media arus utama (mainstream media) dituntut untuk mampu menerjemahkan kebijakan ekonomi dan makroprudensial yang teknis menjadi informasi yang relevan serta mudah dipahami oleh masyarakat luas. Hal tersebut disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, Heri Triyanto, dalam acara Pelatihan Wartawan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan yang berlangsung di Hotel Pullman, Bali.

​Dalam paparan bertajuk “Mengemas Informasi Makroprudensial agar Tetap Relevan”, Heri mengungkapkan bahwa tantangan terbesar insan pers saat ini adalah mentransmisikan keputusan moneter, seperti kebijakan suku bunga Bank Indonesia, menjadi narasi yang menyentuh dampak langsung (impact) bagi masyarakat (end-user).

​Penerjemahan Kebijakan dan Ekspektasi Publik

​Menurut Heri, pemberitaan moneter tidak boleh berhenti pada istilah teknis semata. Media di daerah perlu mengulas bagaimana kebijakan perbankan memengaruhi biaya kredit perumahan masyarakat hingga beban biaya dana dunia usaha.

​Penyampaian informasi ekonomi yang tepat sangat krusial karena perkembangan ekonomi sangat dipengaruhi oleh pembentukan persepsi dan ekspektasi publik. Mengutip teori peraih Nobel Ekonomi 1995, Robert Lucas, Heri menyebut bahwa informasi yang kredibel merupakan fondasi utama dalam membangun ekspektasi positif guna mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam aktivitas ekonomi.

​Benteng ‘Clearing House’ di Tengah Arus Media Sosial

​Di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan homeless media yang kerap mengabaikan verifikasi demi kecepatan, media arus utama harus mengambil peran vital sebagai penyaring informasi (clearing house) untuk mencegah maraknya fenomena post-truth.

​Pentingnya kehati-hatian dalam pengemasan isu ekonomi digarisbawahi Heri melalui beberapa aspek utama:

​Menjaga Kepercayaan Industri Perbankan: Bisnis perbankan bertumpu penuh pada pilar kepercayaan. Pemberitaan yang mengejar sensasi atau terlalu membesar-besarkan isu negatif berisiko memicu kepanikan nasabah (rush) yang dapat mengguncang industri keuangan.

​Mengawal Dampak Kebijakan dan Kepastian Hukum: Isu penegakan hukum dan kebijakan seperti aksi Satgas PKH yang menyita sekitar 4 juta hektar lahan—memberikan sentimen langsung terhadap keberlanjutan bisnis dan kepastian berinvestasi.

​Mencermati Dinamika Moneter dan Modal Asing: Media perlu kritis membaca fenomena ekonomi makro, termasuk tren keluarnya modal asing (capital outflow) dari portofolio Indonesia yang mencapai Rp176 triliun sepanjang Januari hingga pertengahan Agustus akibat ketidakpastian geopolitik.

​Heri menambahkan, jurnalis diharapkan memiliki kebijaksanaan (wisdom) dalam menyaring serta menyajikan berita ekonomi agar tidak hanya terikat pada fakta sosial, melainkan juga mampu mengelola dampak psikologis masyarakat demi mendukung pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x