

MAKASSAR.DAULATRAKYAT. Gammara Hotel Makassar resmi membuka pameran pernikahan tahunan bertajuk Wedding Expo 2026: “Mapabotting Ri Gammara”, Jumat (4/9/2026). Gelaran ini mengusung perpaduan harmoni antara konsep modern dan nilai-nilai sakral budaya lokal Sulawesi Selatan.
General Manager Gammara Hotel Makassar, Rizki Amanah Ras, menekankan pentingnya menyatukan kekayaan budaya lokal dengan tren pernikahan modern yang terus berkembang. Menurutnya, calon pengantin kini tidak perlu lagi dibingungkan oleh pilihan antara mempertahankan tradisi atau mengusung gaya modern.
“Hari ini, 4 September 2026, Hotel Gammara Makassar membuktikan bahwa modernitas dan budaya bukan lagi pilihan yang harus dipilih salah satunya, melainkan bisa melebur dalam satu kesempurnaan di Gammara,” ujar Rizki dalam sambutannya.
Rizki menjelaskan, kata Mapabotting merupakan ritual suci pernikahan dua insan dalam tradisi Sulawesi Selatan. Sementara itu, Gammara dimaknai sebagai gambaran keindahan, kemegahan, dan kebaikan yang paripurna.
Untuk mewujudkan konsep pernikahan impian tersebut, Gammara Makassar menggandeng sejumlah vendor berpengalaman. Para vendor disiapkan untuk menerjemahkan filosofi dan kesakralan budaya dari berbagai adat di Sulawesi Selatan, mulai dari Bugis, Mandar, Makassar, hingga Toraja.
Dibuka Resmi oleh Pemkot Makassar
Rangkaian acara pembukaan diawali dengan persembahan fashion show busana adat Sulawesi Selatan, salah satunya Baju Bodo yang diperagakan langsung oleh karyawan dan karyawati Hotel Gammara Makassar.
Pameran ini dibuka secara resmi oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Makassar, M. Irwan Bangsawan, yang hadir mewakili Wali Kota Makassar. Turut hadir dalam pembukaan tersebut Kepala Dinas Kominfo Kota Makassar, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, serta jajaran pengurus Bhayangkari Cabang Kota Makassar.
Pernikahan Beri Dampak Ekonomi Berantai
Dalam sambutannya, M. Irwan Bangsawan menyampaikan apresiasi kepada manajemen Gammara Hotel Makassar. Ia menilai pernikahan bukan sekadar seremoni keagamaan dan adat, melainkan peristiwa penting yang menggerakkan rantai ekonomi cukup besar di Kota Makassar.
“Pernikahan adalah peristiwa sakral dan penting yang mempertemukan dua keluarga serta membangun ikatan sosial. Namun di balik perayaan pernikahan, terdapat ekosistem ekonomi yang sangat besar,” kata Irwan.
Ia memaparkan bahwa industri pernikahan melibatkan banyak sektor pendukung, seperti perhotelan, gedung pertemuan, wedding organizer, dekorasi, tata cahaya, fotografer, videografer, perias, busana pengantin, hingga kuliner dan transportasi. Seluruh sektor tersebut merupakan bagian integral dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Lebih lanjut, Irwan menekankan posisi strategis Kota Makassar sebagai Center Point of Indonesia. Menurutnya, Makassar kini berkembang dari sekadar pintu gerbang Indonesia Timur menjadi ruang aktivitas bersama (living room) bagi masyarakat.
“Kita perlu membangun sebuah mindset dan ekosistem yang membuat orang berkata: ‘Menikah di Makassar adalah pengalaman yang sangat berkesan’,” tegasnya.
Dorong Inovasi Industri Pernikahan
Pemerintah Kota Makassar berkomitmen untuk terus menciptakan iklim usaha yang kondusif, menyediakan infrastruktur, memperkuat promosi destinasi, serta membuka ruang kolaborasi bagi para pelaku usaha demi menciptakan dampak ekonomi berantai (multiplier effect) bagi UMKM dan masyarakat.
Irwan juga mengajak seluruh pelaku industri pernikahan untuk terus berinovasi tanpa hanya berfokus pada persaingan harga.
“Mari kita tidak hanya bersaing dalam harga, tetapi bersaing dalam kualitas, kreativitas, pelayanan, hospitality, dan profesionalisme. Di era sekarang, masyarakat tidak hanya membeli produk, tetapi membeli pengalaman,” pungkasnya.
Melalui Wedding Expo 2026 “Mapabotting Ri Gammara”, pameran ini diharapkan menjadi wadah inspirasi bagi para calon pengantin sekaligus ajang untuk melestarikan kekayaan tradisi pernikahan Sulawesi Selatan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.


Tidak ada komentar