Wisuda Tahfidz Quran RHIS di Hotel Claro: Kisah Haru Arwin, Didik Anak Utamakan Akhirat

Redaksi
17 Jul 2026 09:49
3 menit membaca

​MAKASSAR.DAULATRAKYAT. Suasana penuh haru dan kebanggaan menyelimuti gelaran Wisuda Tahfidz Quran Ranu Harapan Islamic School (RHIS) yang berlangsung di Hotel Claro, Makassar, pada Jumat (17/07/2026).

Di antara ratusan orang tua yang hadir, terselip cerita menyentuh dari Arwin, orang tua dari Dini Aisyah, salah satu siswi SMP RHIS yang diwisuda hari ini.

​Rasa bangga tidak bisa disembunyikan dari wajah Arwin saat melihat putrinya (yang juga akrab disapa Ananta) berhasil menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam pendidikan Al-Quran.

​Perubahan Akhlak yang Nyata

​Bagi Arwin, momen wisuda ini bukan sekadar seremoni kelulusan hafalan, melainkan bukti nyata dari proses pembentukan karakter sang anak selama menimba ilmu di RHIS. Ia mengaku melihat perubahan yang sangat positif pada diri putrinya, baik dari segi kedisiplinan ibadah maupun perilaku sehari-hari.

​”Kalau terharu itu pasti ya, otomatis pasti. Bangga juga pasti. Dan alhamdulillah setelah pendidikan di Ranu ini, otomatis ada efek lah ke anak kami. Perbedaannya mulai dari hafalan, terus akhlak juga betul-betul ada yang terbawa dari sekolah ke rumah,” ungkap Arwin saat ditemui di sela-sela acara.

​Alasan Memilih RHIS dan Rencana Lanjut ke Jenjang SMA

​Ketika ditanya mengenai alasannya memercayakan pendidikan sang anak ke RHIS, Arwin membeberkan dua alasan utama: biaya yang terjangkau dan kualitas alumni yang terbukti luar biasa.

​Melihat dampak positif yang begitu besar pada perkembangan Dini Aisyah, Arwin bahkan sudah memantapkan niat untuk melanjutkan pendidikan putrinya ke jenjang SMA di sekolah yang sama.

​”Ranu ini terjangkau. Yang kedua, kami sudah lihat alumni-alumni dari Ranu itu luar biasa lah. Makanya saya juga pengen anak saya nantinya mengikuti jejak-jejak seniornya. Insyaallah rencana lanjut SMA-nya kemungkinan juga di Ranu,” tambahnya.

​Target Hafalan dan Investasi Akhirat

​Sebagai orang tua, Arwin tentu memiliki harapan besar terkait hafalan Al-Quran putrinya. Target maksimal 30 juz tetap menjadi impiannya, meskipun ia memilih bijak dengan menyesuaikan kemampuan sang anak tanpa memberikan tekanan yang berlebihan.

​Namun, di atas semua pencapaian duniawi atau target angka hafalan, Arwin menekankan bahwa fokus utamanya sebagai kepala keluarga adalah membekali anaknya demi kehidupan setelah dunia.

​”Sebenarnya kalau target, ya otomatis kan akhirat, Bu ya. Kami sebagai orang tua itu pengen ada investasi untuk akhirat kelak. Kalau dunia kan kita cuma bisa arahkan, adapun keputusan itu nantinya urusan si anak. Tapi kalau akhirat, itu harus kita paksakan (didik dengan kuat),” tegas Arwin menutup pembicaraan.

​Prinsip “utamakan akhirat, maka dunia akan mengikuti” tampaknya benar-benar tertanam dalam pola didik Arwin. Melalui momentum wisuda tahfidz ini, ia berharap Dini Aisyah tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki benteng iman dan akhlak yang kokoh di masa depan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x