Minta Generasi Muda Bijak Layanan Digital, OJK Catat Pinjol Tembus Rp106,9 Triliun dan Paylater Rp13,6 Triliun

Redaksi
25 Okt 2026 10:24
2 menit membaca

JAKARTA,DAULATRAKYAT- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menggenjot literasi dan inklusi keuangan generasi muda di tengah melesatnya pertumbuhan industri pembiayaan digital. OJK mengimbau para mahasiswa dan masyarakat untuk selalu memperhitungkan risiko serta kemampuan membayar sebelum memanfaatkan akses pinjaman digital.

​Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, saat memberikan Kuliah Umum “OJK Mengajar 2026″ di Indonesia Banking School (IBS), Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

​Agusman memaparkan, pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) dan machine learning telah mengubah proses analisis pembiayaan dari yang semula memakan waktu berbulan-bulan menjadi hanya dalam hitungan detik. Kendati demikian, kemudahan akses ini harus diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.

​”Pembiayaan digital hadir untuk memperluas akses keuangan sepanjang tersedia konektivitas. Namun, kemudahan akses ini harus diimbangi dengan literasi yang memadai, pemahaman risiko, serta kemampuan memenuhi kewajiban agar manfaatnya dirasakan secara optimal dan berkelanjutan,” tegas Agusman.

​Lonjakan Industri Paylater dan Pinjaman Online

​Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, data OJK per Agustus 2026 mencatat pertumbuhan signifikan pada dua sektor pembiayaan digital utama:

​Buy Now Pay Later (BNPL): Baki debet BNPL yang disalurkan perusahaan pembiayaan melonjak 36,57 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp13,61 triliun dengan total 27,71 juta rekening.

​Pinjaman Online (Pindar): Outstanding pembiayaan pinjol tumbuh 22,07 persen (yoy) menembus Rp106,94 triliun. Total pengguna mencapai 189,77 juta akun (terdiri dari 3,02 juta lender dan 186,75 juta borrower).

​Guna menjaga pertumbuhan yang sehat, OJK berkomitmen memperketat pengawasan serta regulasi pelindungan konsumen untuk memitigasi risiko seperti penyalahgunaan data pribadi, penipuan (fraud), dan kegagalan bayar.

​Manajemen Risiko Jadi Kunci Bagi Mahasiswa

​Ketua Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI), Priyanto Budi Nugroho, menyambut positif edukasi yang diberikan OJK kepada 137 mahasiswa dan 15 dosen IBS yang hadir. Menurutnya, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi, melainkan pemahaman mendalam atas konsekuensi finansialnya.

​”Di era digital, pemanfaatan inovasi tidak hanya untuk mencari keuntungan, tetapi harus sejalan dengan manajemen risiko dan tanggung jawab. Jangan sampai kemudahan pendanaan justru berujung pada kesulitan keuangan di kemudian hari,” ujar Priyanto.

​Melalui program OJK Mengajar, otoritas berharap civitas akademika dapat menjadi pelopor pemanfaatan layanan keuangan secara bijak sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x