

BALI..DAULATRAKYAT.Perekonomian Provinsi Bali mencatatkan kinerja positif pada triwulan II 2026 dengan menguat sebesar 5,78 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian ini meningkat dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar 5,58 persen, sekaligus berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,05 persen.
Deputi Kepala Divisi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali, Jonataruli Sidabalok, menyampaikan bahwa sektor pariwisata tetap menjadi penopang dominan perekonomian Pulau Dewata di tengah dinamika dan gejolak geopolitik global.
”Sektor pariwisata menyumbang porsi sebesar 40,9 persen terhadap pangsa perekonomian Bali. Pertumbuhan ini ditopang oleh lapangan usaha penyediaan makan dan minum sebesar 21,91 persen, transportasi 10,21 persen, serta perdagangan sebesar 8,78 persen,” ujar Jonataruli saat menyambut insan pers dalam giat Pelatihan Wartawan BI Sulawesi Selatan di Bali.
Selain pariwisata, struktur ekonomi Bali didukung oleh sektor pertanian sebesar 12,85 persen dan sektor konstruksi sebesar 9,45 persen yang juga masih memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas pariwisata.
Lonjakan Kunjungan Wisatawan
Kinerja ekonomi yang solid ini selaras dengan tingginya pemulihan dan aktivitas mobilisasi wisatawan. Berdasarkan data pergerakan wisatawan:
Wisatawan Mancanegara (Wisman): Mencapai 6,9 juta kunjungan, tumbuh 11,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pangsa pasar terbesar didominasi oleh Australia (33,44%), disusul India, China, Amerika Serikat, dan Inggris.
Wisatawan Nusantara (Wisnus): Mencapai 26,6 juta perjalanan, naik 17,53 persen. Asal wisatawan domestik terbesar berasal dari Jawa Timur (40,88%), DKI Jakarta (10,66%), Jawa Barat (10,09%), dan Jawa Tengah (9,86%).
Meski demikian, konsentrasi kunjungan wisatawan masih terpusat di kawasan Bali Selatan seperti Kabupaten Badung (Kuta, Seminyak, Nusa Dua, Uluwatu), Denpasar, Gianyar, dan Tabanan.
Tantangan dan Arah Strategis Pariwisata Bali
Tingginya arus masuk wisatawan membawa sejumlah tantangan lingkungan dan infrastruktur, mulai dari pengelolaan sampah, daya dukung lingkungan, risiko overtourism, hingga kemacetan lalu lintas serta ketimpangan pembangunan antara Bali Selatan dan Bali Utara/Timur.
Menjawab tantangan tersebut, Bank Indonesia menekankan pentingnya tiga langkah strategis dalam mendorong pariwisata Bali ke depan:
Mendorong Pariwisata Berkualitas (Quality Tourism): Berfokus menarik wisatawan yang memiliki masa tinggal lebih lama (length of stay) untuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.
Pemerataan Infrastruktur: Mempercepat konektivitas dan jaringan transportasi massa terpadu guna memecah kepadatan di wilayah Bali Selatan serta menumbuhkan potensi Bali Utara.
Digitalisasi dan Pariwisata Hijau: Penguatan integrasi sistem pembayaran nontunai melalui QRIS antarnegara (termasuk konektivitas dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, China, dan Jepang) serta komitmen transisi energi bersih pada berbagai fasilitas pariwisata.
Melalui sinergi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan alam, serta pelestarian budaya Tri Hita Karana, pariwisata Bali diharapkan terus berkontribusi dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional secara inklusif.


Tidak ada komentar