Melinda Aksa Dorong Lahirnya Produk Kerajinan Khas Makassar: “Jangan Sekadar Menjual, Tapi Menciptakan”

Redaksi
15 Apr 2026 02:42
2 menit membaca

MAKASSAR.DAULATRAKYAT. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar, Melinda Aksa, menekankan pentingnya pengembangan industri kerajinan lokal yang otentik sebagai pilar identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

​Hal tersebut ditegaskannya saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Industri Kerajinan yang digelar di Novotel Makassar Grand Shayla, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dinas Perindustrian Kota Makassar dengan Dekranasda Kota Makassar.

​Mencari Identitas yang Terlupakan

​Dalam sambutannya, Melinda berbagi cerita reflektif mengenai tantangan awal saat dirinya menjabat. Ia menyoroti fenomena di mana Makassar lebih dikenal sebagai kota perdagangan ketimbang kota produksi kerajinan.

​“Saat pertama dilantik, saya bertanya, apa kerajinan khas yang benar-benar asli Makassar? Banyak yang mengira sutra adalah produk kita, padahal pengrajinnya berada di luar Makassar. Kita hanya menjadi tempat penjualannya saja,” ungkap Melinda.

​Ia menegaskan bahwa kerajinan yang dijual di toko oleh-oleh saat ini masih didominasi produk dari luar daerah. Hal ini menjadi motivasi bagi Dekranasda untuk mulai menciptakan produk yang mencerminkan jiwa Kota Makassar secara langsung.

​Kualitas Hasil Karya, Bukan Cetakan Mesin

​Melinda juga mengingatkan para pelaku usaha untuk menghindari penggunaan teknik printing dalam produk wastra atau kerajinan tangan. Ia bercermin pada masukan dari Dekranas Pusat yang menekankan nilai sebuah kerajinan terletak pada sentuhan tangan pengrajin.

​“Produk kita harus benar-benar hasil karya pengrajin, bukan sekadar produksi mesin. Kami mulai mencari dan membina pembatik lokal yang masih aktif untuk mengembangkan motif khas yang kelak menjadi identitas kuat Kota Makassar,” tambahnya.

​Optimalisasi Limbah Menjadi Nilai Ekonomi

​Selain batik, Melinda menyoroti potensi bahan alam lokal seperti eceng gondok. Ia menyayangkan selama ini bahan baku kerajinan tersebut sering kali didatangkan dari Pulau Jawa, padahal Makassar memiliki ketersediaan bahan baku yang melimpah di beberapa wilayah kecamatan.

​Melalui pelatihan yang intensif, Dekranasda berkomitmen mengubah limbah tersebut menjadi produk berkualitas tinggi. Ia juga mendorong para Ketua TP PKK Kecamatan untuk menginisiasi lahirnya “Kampung Kerajinan” di wilayah masing-masing guna meningkatkan ekonomi keluarga.

​Menuju HUT Dekranas ke-46 di Makassar

​Dukungan senada disampaikan Asisten II Pemerintah Kota Makassar, Zainal Ibrahim. Ia mengajak seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk berkolaborasi melalui fasilitas seperti Makassar Creative Hub.

​Terlebih lagi, pada tahun 2026 ini, Kota Makassar akan menjadi tuan rumah puncak perayaan HUT ke-46 Dewan Kerajinan Nasional tingkat pusat.

​“Ini adalah panggung nasional. Kita ingin tamu dari seluruh Indonesia tidak hanya datang melihat, tapi pulang dengan membawa produk asli pengrajin Makassar yang memiliki nilai seni dan kualitas tinggi,” tutup Zainal.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x