

MAKASSAR.DAULATRAKYAT. Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) terus memperkuat ekosistem keuangan inklusif di wilayahnya. Kepala OJK Sulselbar, Moh Mochlasin, menyampaikan bahwa dorongan inklusi keuangan dilakukan secara merata, mulai dari digitalisasi pembayaran melalui QRIS hingga program pemberdayaan di tingkat desa dan sektor pertanian.
Dalam program pembiayaan Phinisi, OJK Sulselbar mencatat kinerja positif pada triwulan II 2026. “Plafon yang sudah tersalurkan adalah Rp1,18 triliun untuk jumlah rekening mencapai 34.000 orang,” ungkap Moh Mochlasin.
Selain itu, pemberdayaan UMKM berbasis klasterisasi mencatatkan 1.611 klaster dengan 22.000 debitur dan total plafon kredit mencapai Rp644 miliar. Sektor ini didominasi oleh pertanian, perburuan, dan kehutanan.
Guna memperluas jangkauan ekosistem keuangan inklusif, OJK bersinergi melalui program Desa EKI di basis Kampung Nelayan Merah Putih. Saat ini program tersebut telah berjalan di Desa Angkue (Bone), Toke-toke (Sinjai), dan BentengGih (Bulukumba). Pada semester dua 2026, program ini disiapkan merambah tiga lokasi lain kerja sama Kementerian KKP, yakni Balang Loe (Jeneponto), Aeng Batu (Takalar), dan Untia (Makassar).
Program ini melibatkan perbankan untuk memberikan fasilitas pembiayaan dan pelatihan olahan perikanan bagi istri-istri nelayan.
Tidak hanya di sektor perikanan, OJK Sulselbar juga mendorong ekonomi kakao bersama PT Mayora sebagai offtaker.
Pembiayaan sebesar Rp2,51 miliar telah disalurkan kepada para petani untuk peremajaan serta perawatan bibit kakao. Di sisi edukasi, program Syariah (ETiK, SAKINA, dan Gerak Syariah) sepanjang semester I telah menggelar 96 kegiatan edukasi dengan total 817 ribu peserta.


Tidak ada komentar