

MAKASSAR.DAULATRAKYAT.Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Selatan secara resmi meluncurkan program UMKM dan Pesantren REWAKO Tahun 2026 dalam acara kick off yang digelar di Makassar.
Program ini merupakan langkah strategis berkelanjutan untuk mengembangkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ekonomi pesantren agar semakin tangguh, mandiri, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
REWAKO sendiri merupakan singkatan dari Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgeable, yang menjadi visi pengembangan kapasitas pelaku usaha agar memiliki ketahanan, standar kualitas kelas dunia, kelincahan beradaptasi, serta berbasis pengetahuan.
Pengembangan ini dilakukan secara menyeluruh atau end-to-end, yang mencakup serangkaian proses mulai dari seleksi, kurasi, pelatihan, pendampingan dan pembinaan intensif, hingga pemantauan serta evaluasi berkelanjutan.
Program ini telah berjalan sejak tahun 2022 dan terus mengalami penyempurnaan setiap tahunnya guna menjawab dinamika kebutuhan pelaku usaha. Khusus pada tahun 2026, cakupan program diperluas menjadi empat fokus utama, yaitu: UMKM REWAKO (umum), UMKM REWAKO Petani, UMKM REWAKO Ekspor, dan Pesantren REWAKO.
Inisiatif Strategis: Pasar Global, Rantai Pasok Modern, dan Ekonomi Syariah
Di tahun ini, penguatan program dilakukan melalui tiga inisiatif strategis utama. Pertama, sinergi dengan Indonesia Trading House dan House of Bean Indonesia yang beroperasi di luar negeri, bertujuan membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi produk-produk unggulan Sulawesi Selatan.
Kedua, memperkuat keterkaitan atau linkage antara UMKM dengan jaringan ritel modern, agar produk lokal dapat masuk ke dalam rantai pasok yang lebih besar dan menjangkau konsumen di pasar domestik secara lebih luas.
Ketiga, perluasan pemberdayaan ke sektor ekonomi syariah melalui program Pesantren REWAKO. Inisiatif ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi lingkungan pesantren, sekaligus memperkuat peran strategis pesantren dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Melalui program ini, kami ingin memastikan bahwa UMKM dan pesantren tidak hanya tumbuh, tetapi juga bertransformasi menjadi pelaku usaha yang produktif, mandiri, dan memiliki daya saing tinggi. Sinergi yang kami bangun bertujuan agar produk lokal Sulawesi Selatan mampu menembus pasar global dan masuk ke sistem distribusi modern,” ungkap Rizki Ernadi Wimanda, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus Direktur Eksekutif, dalam sambutannya.
Jangkauan Luas dan Transformasi Digital
Pada pelaksanaan tahun 2026, masing-masing program kategori UMKM REWAKO (umum, petani, dan ekspor) diikuti oleh 75 peserta yang berasal dari 24 Kabupaten dan Kota se-Provinsi Sulawesi Selatan. Dengan demikian, secara kumulatif jumlah UMKM binaan dan mitra Bank Indonesia di Sulsel sejak program ini digulirkan telah mencapai angka 517 pelaku usaha. Sementara itu, program Pesantren REWAKO tahun ini diikuti oleh 30 pesantren terpilih.
Berbarengan dengan dimulainya REWAKO, KPwBI Sulsel juga meresmikan program Onboarding UMKM Go Digital 2026 yang diikuti oleh 30 UMKM. Program ini menjadi bagian dari akselerasi transformasi ekonomi digital, di mana pelaku usaha dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jangkauan pasar, dan memperkuat daya saing produk di era serba digital.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian, lembaga, pelaku usaha, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya.
Sinergi ini diharapkan dapat menjadikan sektor UMKM dan pesantren sebagai pilar pertumbuhan ekonomi yang lebih kokoh, inklusif, dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ekonomi daerah.


Tidak ada komentar