Telkom Catat Kinerja Solid Kuartal I 2026, Pendapatan Tumbuh 1,5% dan Transformasi Berjalan Sesuai Rencana  

Redaksi
30 Mei 2026 07:59
5 menit membaca

JAKARTA.DAULATRAKYAT.PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan kinerja keuangan untuk periode kuartal pertama tahun 2026 dengan hasil yang progresif dan tetap kuat, meski di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi.

Perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan serta kemajuan pesat dalam pelaksanaan strategi transformasi TLKM 30, sekaligus menunjukkan disiplin operasional dan fondasi bisnis yang makin kokoh.

Selama tiga bulan pertama tahun ini, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau naik 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan marjin EBITDA di angka 48,3 persen, sementara laba bersih mencapai Rp4,3 triliun dan marjin laba bersih 11,7 persen.

Jika dilihat dari angka yang dinormalisasi, laba bersih tercatat sebesar Rp5,1 triliun dengan marjin 13,8 persen. Penurunan pada laba bersih utamanya dipengaruhi oleh dampak lanjutan percepatan penyusutan dan proses penyesuaian bisnis dalam tahap transformasi, namun hal ini bersifat sementara dan tidak berdampak pada arus kas. Secara operasional kinerja tetap terjaga baik, bahkan arus kas operasional justru tumbuh 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun berkat efisiensi biaya dan pengelolaan penagihan yang makin baik.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyatakan bahwa capaian ini menjadi awal yang positif untuk melangkah lebih cepat dan tegas dalam melaksanakan rencana jangka panjang perusahaan.

“Tahun ini kami akan makin gencar mempercepat pelaksanaan strategi TLKM 30 guna menciptakan nilai tambah dan menjamin kelangsungan usaha yang makin kuat ke depannya. Hasil kuartal pertama ini menjadi motivasi bagi seluruh jajaran TelkomGroup untuk terus memperbaiki kinerja secara bertahap, serta memberikan manfaat terbaik bagi pelanggan, masyarakat, dan negara,” ujar Dian.

Segmen B2C: Pasar Makin Sehat, Nilai Pendapatan Per Pelanggan Naik 6,4%

Pada segmen bisnis ke pelanggan atau B2C yang dikelola Telkomsel, pendapatan tercatat sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh meningkatnya pendapatan dari layanan dan solusi digital, serta kenaikan volume penggunaan data sebesar 2,3 persen berkat penguatan dan perluasan jaringan yang dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

Melalui penerapan kebijakan harga yang disiplin, penyederhanaan jenis layanan, serta peningkatan kualitas pengalaman pelanggan, nilai pendapatan rata‑rata per pengguna atau ARPU berhasil naik menjadi Rp45.100, atau tumbuh 6,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi tanda bahwa kondisi pasar makin sehat dan industri bergerak ke arah yang lebih stabil dan rasional.

“Kebutuhan akan koneksi dan internet kini sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat, dan permintaannya terus bertambah tanpa tanda‑tanda akan menurun. Kami yakin dapat terus mengembangkan layanan seluler dan internet rumah secara berkelanjutan dengan selalu mengutamakan kenyamanan dan kepuasan pelanggan,” tambah Dian.

Segmen B2B Infrastruktur: Tumbuh Positif, Mitratel Perluas Jaringan Serat Optik

Segmen layanan bisnis dan infrastruktur juga menunjukkan kinerja yang menguat dengan pendapatan sebesar Rp2,4 triliun atau naik 6,8 persen.

Pertumbuhan ini didorong oleh makin berkembangnya layanan koneksi serat optik hingga lokasi menara telekomunikasi atau FTTT yang dikelola anak usaha Mitratel.

Mitratel sendiri mencatat pendapatan sebesar Rp2,3 triliun dengan pertumbuhan 1,4 persen, di mana sewa menara dan layanan pendukungnya tetap menjadi sumber pendapatan utama. Berkat pengelolaan biaya yang efektif, marjin EBITDA berhasil dipertahankan stabil di angka 82,7 persen.

Untuk memperkokoh posisi sebagai pemain utama di kawasan Asia Tenggara, perusahaan terus memperluas jaringan serat optik. Hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini, jaringan baru yang terpasang mencapai 1.080 kilometer, sehingga total panjang jaringan kini menyentuh angka 58.279 kilometer.

Langkah ini tidak hanya menambah nilai bisnis FTTT, tapi juga mempertegas posisi Mitratel sebagai perusahaan pengelola menara telekomunikasi masa depan yang terintegrasi dan canggih.

Untuk layanan pusat data, kebutuhan pasar terus bertumbuh seiring makin luasnya pemanfaatan teknologi digital. Langkah penyatuan pengelolaan aset pusat data ke dalam pengelolaan NeutraDC menjadi langkah strategis agar pengelolaan makin terfokus, efisien, dan siap menangkap peluang pasar serta kerja sama dengan mitra strategis.

Pada layanan jaringan dan hubungan luar negeri, pendapatan tercatat sebesar Rp2,8 triliun dengan pertumbuhan layanan koneksi antar‑operator sebesar 18,9 persen berkat makin aktifnya bisnis layanan suara internasional.

Sementara pada segmen layanan teknologi dan solusi bisnis atau B2B ICT, pendapatan tercatat sebesar Rp3,1 triliun. Di tengah proses penataan struktur usaha, pertumbuhan bisnis berjalan lebih terukur dan selektif dalam menjalin kerja sama baru.

Meskipun pertumbuhan jangka pendek berjalan lebih lambat, langkah ini bertujuan untuk memperbaiki marjin keuntungan, menghilangkan tumpang tindih penawaran layanan, serta memperkokoh daya saing usaha dalam jangka panjang.

Eksekusi Transformasi Berjalan Sesuai Rencana

Seluruh kemajuan dan hasil kinerja yang tercatat tak lepas dari keberhasilan perusahaan dalam menjalankan rencana transformasi TLKM 30. Nilai investasi yang disalurkan mencapai Rp4,9 triliun atau setara 13,2 persen dari total pendapatan. Sebanyak 99 persen dana tersebut digunakan untuk mengembangkan jaringan dan infrastruktur bisnis utama, sedangkan sisanya untuk membangun dan mengembangkan layanan digital baru.

Berbagai langkah penataan usaha terus dilakukan mulai dari pengelolaan struktur induk dan anak usaha, hingga pelepasan atau penggabungan usaha yang bukan menjadi fokus bisnis utama. Salah satunya adalah proses pelepasan saham AdMedika Group kepada mitra strategis yang ditargetkan selesai pada akhir semester pertama tahun ini, yang diharapkan dapat membuka ruang pertumbuhan baru dan memperbaiki kualitas layanan di bidang kesehatan digital.

Di sisi pengelolaan aset, persiapan pemisahan aset jaringan serat optik tahap kedua kepada InfraNexia juga berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun ini. Langkah ini bertujuan agar pengelolaan aset makin tangkas dan efisien sekaligus membuka peluang usaha baru.

Saat ini kontribusi pendapatan dari usaha serat optik baru mencapai sekitar 15 persen, dan ditargetkan akan meningkat menjadi sekitar 25 persen seiring makin optimalnya penggunaan infrastruktur serta selesainya proses perpindahan aset dan operasional usaha.

Perusahaan juga terus memperkuat layanan solusi bisnis dan hubungan luar negeri guna menangkap peluang perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang makin luas penggunaannya. Ke depannya, seluruh langkah ini diharapkan akan membuat komposisi pendapatan dari usaha ke konsumen dan usaha ke bisnis menjadi lebih seimbang dan kuat.

“Tahun 2026 membawa banyak peluang sekaligus tantangan bagi kami. Karena itulah kami terus mempercepat pelaksanaan strategi transformasi dengan tetap menjaga prinsip disiplin kerja, memperkuat keberlanjutan usaha, menghadirkan layanan yang makin mudah diakses masyarakat, serta membangun ekosistem digital yang mampu memberikan dampak positif yang makin luas,” tutup Dian.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x